Rabu, 04 Desember 2013

Cermin yang Terlupakan




Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan  lagi. Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu  di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, 35 tahun yang lampau.

 Karena Tia tidak suka akan cermin itu, lalu ia simpan di gudang, maklum yang memberinya adalah mantan kekasih dari Porman sewaktu mereka mahasiswa yaitu Imel.Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan. Demikianlah, cermin itu teronggok  di loteng. 

Setelah 35  tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang  lain untuk dijual keesokan hari. Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah  mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang  mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah  tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua  yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli. Seorang lelaki menghampiri Porman,dan berkata "Berapa harga cermin itu?"  katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Porman tercengang."Wah,  saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh  ingin membelinya?" katanya. "Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus."  jawab pria itu. Porman  tidak tahu berapa harga yang pantas untuk  cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu  tetaplah jelek dan tidak berharga. Setelah berpikir sejenak, Porman   berkata, "Hmm .... anda bisa membeli cermin itu seharga Rp 25.000 katanya." Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang  Rp.50.000.- dan memberikannya kepada Porman. "Terima kasih," kata Porman , "Sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?" "Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang."  Jawab si pembeli yang bernama Lompow. Porman  memberikan ijinnya, dan Lompow  itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Porman. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan  lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya. Bingkai cermin  itu ternyata terbuat dari emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang  selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!"Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!" sorak Lompow  dengan gembira. Porman  tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah  itu dibawa pergi oleh Lompow sipemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu…………..s4mt

Tidak ada komentar:

Posting Komentar