Jumat, 18 November 2016

Teriakan jiwa



Teriakan Jiwa...  ratapan hati,
Hanya selembar kertas dan pena yang setia bersama,
Tidak juga kau.....
Ku meronta  diantara jiwa
Ku melantunkan laguku untukMu
di hati kecil berjurai air bening menetes di pipi
dan seluruh rona tercipta sejuta makna...
hadirMu lumbung sukaku,
bagiMu tumpahan dukaku.

Senin, 11 Januari 2016

Belajar Menghormati Setiap Orang


Suatu pagi, seorang wanita berpenampilan menarik berusia sekitar  30-an tahun  membawa anaknya memasuki area perkantoran sebuah perusahaan terkenal.Seperti umumnya perkantoran, karena masih sepi, mereka duduk di taman di samping gedung kantor tersebut sambil menikmati cemilan, seraya menikmati hamparan hijau nan asri yang ada dilokasi tersebut. Maklum sajalah, kantor perusahaan besar, pastilah land scape nya sudah ditata oleh seorang arsitektur yang mumpuni. Namun karena kebiasaan buruk dari keluarga si Ibu ini,  Selesai makan, dengan santai si Ibu membuang sembarangan tisu bekas pakai dan sampah sisa makanan ke taman yang tertata dengan rapi dan bersih itu. Padahal, tak jauh dari tempat itu, ada seorang Kakek tua berpakaian sederhana memegang gunting untuk memotong ranting. Dengan menatap tajam,dan sedikit heran sang Kakek itu menghampiri, memungut sampah tisu dan sisa makanan sang Ibu dan membuangnya ke tempat sampah yang sudah tersedia tidak jauh dari tempat sang Ibu dan anaknya duduk.
Beberapa waktu kemudian, kembali si Ibu dan anaknya itu membuang bekas makanan dengan sembarangan. Lagi-lagi kakek itu dengan sabar memungut dan membuangnya ke tempat sampah, dan menegur anak sang ibu. "Nak, jangan buang sampah sembarangan, kan di sana ada tempat sampah?"
Karena merasa jengkel, sang Ibu menyindir si Kakek dan berkata kepada anaknya, sambil menunjuk ke arah sang kakek, si Ibu itu lantang berkata ke anaknya, "Nak, kamu lihat di belakangmu, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu. Kerjanya mungutin dan buang sampah! Jelas, ya?"

Si kakek meletakkan gunting dan menyapa wanita itu, "Permisi, ini adalah taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk ke sini?"
Wanita itu dengan sombong menjawab, "Saya? Oh, saya adalah calon manager logistik yang dipanggil oleh perusahaan ini."
Di waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sikap sopan dan hormat menghampiri kakek tua tersebut sambil berkata, "Pak Presiden Direktur, mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai."
Sang kakek mengangguk. Lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita di situ, dia berkata tegas, "Manager, tolong untuk wanita ini, saya tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun diperusahaan ini."
Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat, "Siap Pak Presdir, sesuai perintah Bapak."
Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan sambil membelai kepala si anak yang sejak tadi memperhatikannya, lalu berkata: "Nak, di dunia ini, yang penting adalah belajar untuk menghormati setiap orang, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah sekalipun!".........

Rabu, 02 Juli 2014

MEMILIH PEMIMPIN

MEMILIH PEMIMPIN
Yeremia 22:13-19

        Ketika hendak memasuki peralihan kepemimpinan suatu lembaga, organisasi bahkan negara, kita diterpa beragam iklan para calon pemimpin baik yang real maupun yang menggunakan bahasa hiperbola, hal inilah yang disebutkan sebagai promosi diri para calon. Demi mendongkrak popularitas, tidak sedikit para calon/kandidat mempromosikan dirinya dengan berbagai cara dan tidak jarang hal itu membuat kita bingung dalam memilih.Dalam media terjadi perang "iklan" antara kandidat, sehingga bagi kita yang awam, terutama yang tidak faham maksud dan niat para kandidat, dapat menjadi bingung dalam menentukan pilihan.

        Dalam situasi seperti ini,kita yang mengaku umat pilihan Tuhan bisa jadi keliru dalam menentukan pilihan karena termakan iklan atau karena ajakan untuk memilih dengan pendekatan duniawi antara lain berdasarkan kesamaan suku atau agama, bahkan ada yang berbau korupsi, baik korupsi kebijakan maupun harta. Tidak jarang kita yang mengaku pengikut Tuhan terjebak dalam ranah ini, misalnya: Mengadakan kegiatan ibadah dengan mengundang salah satu kandidat dengan tujuan tertentu, seolah-olah ibadah, tapi pakai makna ganda. Hal ini kita bungkus dengan kemasan yang sangat rapi dan terkesan bagian dari ibadah, sehingga kita memilih tidak lagi berdasarkan fakta, namun sudah didominasi kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Saya juga dalam hal ini tidak dalam kapasitas menyatakan salah atau benar, sebab itu milikNya sebagai "Hakim" atas dunia ini beserta isinya.

       Pada saat ini saya mau shear sebuah renungan yang saya baca di Renungan Harian saya dimana penulis mengutip Firman Tuhan untuk memberi tuntunan kepada kita untuk memilih pemimpin yang benar, yaitu menetapkan pilihan pada dia yang mengenal Allah. Namun, untuk dapat mendeteksi sampai pada karakter tersebut, ternyata tidak sesederhana menyimak tampilan iklan yang mereka tampilkan dan tayangkan, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Karakter ini juga tidak dapat dikenali dari keluarga,suku bahkan agama seorang kandidat. Hal ini saya tuliskan, karena tak sedikit manusia yang dapat memanipulasi sejarah hidupnya. Yang disebut iklan, tentunya hanya ditayangkan hal-hal yang baik saja bahkan lebih lagi dengan menggunakan bahasa hiperbola.

      Melalui Kitab Yeremia, Tuhan mengajar kita untuk melihat perwujudan karakter "mengenal Allah" pada kehidupan sehari-hari, dalam tindakan nyata: melakukan keadilan, kebenaran, memperhatikan dan memperlakukan orang sengsara dan miskin dengan adil.

      Sudah seharusnya dalam memilih pemimpin mendatang,pertama sekali kita mendoakan secara khusus, mohon tuntunanNya lalu kita memang perlu meneliti rekam jejak kehidupan sang calon.
1. Bagaimana kebijakan yang pernah ia buat?
2. Apakah ia dikenal sebagai pribadi yang memiliki integritas?
3. Apakah ia memiliki kesetiaan? dan banyak pertanyaan yang bisa kita ajukan dan dijawab oleh masa lalu seseorang calon. Karena sikap dan karakter, tidak dapat berubah dalam waktu singkat bagi orang yang sudah dewasa. Jawaban dari pertanyaan di ataslah yang kita jadikan sebagai referensi kita untuk menentukan pilihan kita sesudah kita mendoakannya. Hal itu perlu diperhatikan karena dapat dijadikan petunjuk apakah ia mengenal Allah atau tidak. Dengan demikian, kita sebagai anak-anak Terang, jangan ragu dalam menentukan pilihan. Kita harus menyalurkan hak suara kita dengan benar dan tentunya mohon bibingan dan tuntunanNya.

       Konteks Pemilihan Presiden kali ini, saya berharap, kita anak-anak Tuhan harus menjadi sumber terang, sumber damai dalam memilih. Kita yang mengaku Kristen tidak boleh apatis dalam kegiatan ini, namun harus bersikap arif dan bijaksana. Jangan lagi terjebak pada daya pikat iklan atau mengikuti ajakan untuk menilai calon berdasarkan kulitnya saja. Jangan menjadi penikmat sampul, penikmat kulit luar saja, tapi mari memahami isi dan rekam jejaknya. Dengan tuntunanNya, dan mengikuti petunjuk Firman Tuhan, marilah kita memilih pemimpin yang benar bagi negeri ini, dan marilah kita DOA kan agar terpilih pemimpin dengan cara yang benar.

Salam Damai dan Kasih..........Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin
St.Sarmulia Sinaga.
GKPS Simalingkar Resort Medan Selatan.
Semoga bermanfaat bagi kita semua......Salam Damai.

Selasa, 24 Juni 2014

Keinginan versus God Point



Keinginan versus God Point
(  2 Samuel 11:1-27)
Umumnya, dosa bermula dari penglihatan, stimulus tersebut direspon oleh hati dan otak. Kedua objek tersebut beradu dan berlaga dalam diri manusia, Antara otak yang didominasi oleh keinginan daging versus hati sebagai pusat keinginan Roh. Dari hati kita akan terpancar buah-buah roh yang dalam hal ini saya sebut sebagai suatu titik yang dikuasai oleh suara Tuhan (God point). Menurut saya, pada setiap umat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna, normalnya proses ini akan terjadi. Stimulus yang diterima oleh panca indra kita, umumnya mata dan telinga lalu direspon oleh otak dan hati akan menghasilkan reaksi, emosi dan tindakan. Dalam fase inilah terjadi pertarungan antara keinginan daging dengan God point yang terletak pada hati kita.
Ketika saya kembali membaca dan melihat beberapa kasus yang terdapat dalam kisah Alkitab kita, misalnya pengalaman raja Daud,yang prosesnya diawali dengan  melihat, menginginkan, dan mengambil, itulah yang sering menjadi pola  orang saat akan jatuh ke dalam dosa (bdk. Kej. 3:6; Yak. 1:14-15).  Pola ini pula yang tampaknya terjadi pada diri Daud dalam  hubungannya dengan seorang wanita yang sudah bersuami yaitu Batsyeba. Waktu itu Yoab masih berusaha menundukkan bangsa Amon dalam pertempuran di Raba. Ke mana Daud? Daud malah tinggal di Yerusalem
Padahal penulis 2 Samuel menyebutkan, biasanya raja-raja  berperang pada saat pergantian tahun. Dengan tinggal saja di Yerusalem berarti Daud tidak memperlihatkan tanggung jawabnya  sebagai panglima perang kerajaan dan ikut berbagi beban dengan para prajuritnya dalam membela kerajaan.
Pada saat ia bersantai-santai itulah pencobaan datang. Ia melihat seorang perempuan sedang mandi. Orang mungkin saja melihat tanpa disengaja. Masalahnya, Daud tidak berhenti melihat dan setelah melihat ia menginginkan perempuan itu, yang ternyata bernama Batsyeba, istri Uria . Lalu tahap menginginkan itu dilanjutkan dengan tahap mengambil Batsyeba dan tidur dengan  perempuan itu. Kesadaran akan bahaya baru muncul setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa ia mengandung . Maka yang muncul kemudian adalah muslihat untuk menutupi dosa, mulai dari cara yang halus, yang kotor, sampai yang bersifat kriminal , yang ditujukan  kepada Uria, suami Batsyeba.
Melihat, menginginkan, dan mengambil merupakan suatu proses yang tidak  berdiri sendiri, melainkan berkaitan dan berkembang. Jadi dosa tidak bersifat stagnan atau statis. Dosa seperti bola salju,  semakin digelindingkan akan semakin besar, ketika kita lebih didominasi oleh keinginan daging dan pikiran manusia duniawi tanpa mempertimbangkan suara yang muncul dari hati yang kita sebut sebagai God point ! Dimulai dari berzinah  dengan istri orang lain yang ia kenal, bahkan bawahanya hingga "membunuh" suami perempuan itu.Pikiran manusiawi yang mendominasi hatinya, sehingga dia menggunakan kesempatan yang ia miliki, dan seolah-olah ia hanya memperhitungkan manusia dalam keputusannya, Daud lupa Sang Khalik yang Maha Tau.  Meski dilakukan sembunyi-sembunyi dan hanya diketahui sedikit orang, tetapi penulis 2 Samuel menyatakan bahwa dosa yang dilakukan Daud adalah sesuatu yang jahat di mata Tuhan. Ini menjadi suatu peringatan keras bagi kita. Jangan pernah bermain-main dengan dosa, namun dalam mengambil keputusan pertimbangan yang utama adalah suara Roh yang keluar dari hati kita yang saya sebut sebagai God Point. Bila itu kita lakukan, saya yakin kita akan terlepas dari jerat iblis yang dating menyerang kita melalui keinginan daging. Namun demikian, Dia yang maha Kasih, akan memberi kesematan buat kita melalui PutraNya Yesus Kristus. Bila suatu waktu kita jatuh ke dalam dosa, jangan berkubang di dalamnya dan segeralah keluar, ulurkan tangan kita padaNya, Dia pasti tolong kita. Mintalah pengampunan Sang Penebus, terima Dia dalam hidup kita, dan jadikan Dia sebagai filter bagi otak dan pemikiran kita.
Lalu, bagi kita yang sudah ditolong dan diselamatkan oleh Tuhan, sudah tahu sejarah tentang dosa yang terjadi pada masa Daud ini, apakah yang harus kita lakukan ?
1.      Kita harus berani mengingatkan diri sendiri untuk tidak menjadi sumber pemicu dosa bagi orang lain. Misalnya: Pakaian yang minim (Wanita) , dan pembicaraan yang dapat membangkitkan nafsu birahi orang lain. Berani mengingatkan, jika tidak dapat diperbaiki…. tinggalkan pembicaraan tersebut. Berdoalah minta kekuatan dari Dia.
2.      Berani mengatakan yang benar sesuai dengan firman Tuhan, bukan untuk kesenangan atau aturan dunia yang tidak sesuai dengan ketentuan Tuhan yang terdapat pada Alkitab kita.
3.      Ingat Matius 4 : 4, manusia bukan hanya hidup dari roti, tapi dari Firman Tuhan.
4.      Matius 5 : 37
5.      Matius 10 : 11-15
Syaloooooom, Tuhan Yesus memberkati kita semua.
St.Sarmulia Sinaga,ST.,MT.
GKPS Simalingkar Medan
sarmulia_sinaga@yahoo.com
Kisaran, 25 Juni 2014

Kamis, 27 Maret 2014

Arti Pendampingan Seorang Bapa

teringat 6 Tahun yang lalu, dia menyanyikan sebuah lagu buat kami...." Bagai Rajawali" di GKPS Simalingkar. Kala itu, ia masih duduk di bangku TK.......dia selalu menoleh ke sisi kanannya, karena pada saat itu saya duduk di sana. Dia butuh dukungan bapanya, untuk percaya dirinya.
Sejak dini, saya tanamkan rasa percaya diri buatnya....dan pemahaman..."jangan takut untuk melakukan yang baik buat Tuhan" . ayo boru.... kamu bisa.
Kini Agnes Sura Pati Sinaga, telah beranjak remaja, dia sudah duduk di kelas 5 SD........semoga semakin dewasa semakin dekat dengan Tuhan.

Selasa, 25 Maret 2014

"Kingdom Strikes Back" oleh Dr. Ralph D. Winter

"Kerajaan Menyerang Balik" adalah judul terjemahan dari artikel berjudul "Kingdom Strikes Back" yang ditulis oleh Dr. Ralph D. Winter. Dalam artikel yang menarik itu, Dr. Winter memaparkan secara panjang lebar mengenai inisiatif Allah untuk menebus umat-Nya dalam rentang sejarah. Kami sangat mendorong Pembaca mengunjungi situs Perspektif.co untuk dapat membaca artikel ini (dan artikel-artikel menarik lainnya) secara lengkap.

Jangan lupa menyimak juga profil suku bangsa Pomak yang berdiam di wilayah Rumania yang kami sajikan dalam edisi ini. Kiranya apa yang kami sajikan pada edisi ini dapat semakin mengobarkan semangat Pembaca sekalian dalam ikut serta menggenapi Amanat Agung. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati!


 KERAJAAN MENYERANG BALIK: SEPULUH PERIODE DARI SEJARAH PENEBUSAN

Manusia sesungguhnya telah menghapus kisahnya sendiri. Sejauh catatan paleologis (kepurbakalaan) apa pun yang kita miliki, umat manusia telah begitu sering bertarung satu sama lain dan telah menghancurkan lebih dari 90 persen hasil karya mereka sendiri. Perpustakaan mereka, literatur mereka, kota-kota mereka, karya seni mereka, hampir seluruhnya sudah tiada. Bahkan, yang kecil yang tersisa dari masa lalu menunjukkan bukti-bukti kejahatan yang aneh dan menyeluruh, yang secara menjijikkan telah merusak potensi manusia. Ini aneh karena kelihatannya tidak ada spesies lain yang memperlakukan sesamanya dengan kebencian yang mematikan seperti itu. Tengkorak-tengkorak tertua merupakan saksi bisu bahwa mereka dihantam dengan keras dan dipanggang agar organ tubuhnya menjadi makanan bagi manusia lain.

Sejumlah besar bakteri penyakit juga memangkas pertumbuhan populasi. Populasi dunia pada masa Abraham diperkirakan sekitar 27 juta orang -- kurang dari populasi California pada tahun 2000. Tetapi, pertumbuhan populasi yang lambat pada masa Abraham merupakan bukti mengerikan dari kombinasi menghancurkan antara wabah dan perang, keduanya menjadi saksi akan dampak dari Si Jahat. Rata-rata pertumbuhan populasi dunia waktu itu hanya seperenambelas dari rata-rata pertumbuhan global masa kini.

Ketika kebencian dan penyakit ditaklukkan, populasi dunia langsung meningkat. Jika rata-rata pertumbuhan global masa kini yang relatif lambat terjadi di masa Abraham, populasi dunia kita yang sekarang ini (sekitar 6 miliar orang) telah dicapai hanya dalam waktu 321 tahun! Jadi, pada masa itu, kejahatan yang menghancurkan kehidupan pasti jauh lebih merajalela daripada sekarang. Jadi, tidak heran kita menemukan bahwa penjelasan bagi kejahatan yang aneh ini muncul dalam catatan tertulis tertua yang rinci -- dokumen-dokumen yang bertahan, yang dihormati oleh tradisi Yahudi, Kristen dan M, di mana para penganutnya terdiri lebih dari setengah populasi dunia. Dokumen-dokumen ini disebut "Torah" oleh orang Yahudi, "Kitab-kitab Taurat" oleh orang-orang Kristen, dan "Taurat" oleh orang-orang M. Dokumen itu tidak hanya menjelaskan sumber kejahatan, tetapi juga menggambarkan suatu serangan balik terhadap kejahatan itu, dokumen tersebut mengikuti perkembangan serangan tersebut di sepanjang sejarah.

Lebih spesifik lagi, sebelas pasal pertama dari kitab Kejadian yang membentuk suatu "pendahuluan" dari seluruh permasalahan, merupakan plot dari seluruh Alkitab. Halaman-halaman tersebut menggambarkan tiga hal: (1) ciptaan awal yang indah dan "baik"; (2) masuknya kejahatan, yang memberontak dan merusak -- manusia yang mau menjadi sama dengan Tuhan, tergoda oleh setan -- sehingga menghasilkan, (3) kemanusiaan yang terperangkap dalam pemberontakan dan berada di bawah kuasa Si Jahat.

Seluruh Alkitab bukan hanya suatu kumpulan kisah yang tidak saling berhubungan seperti yang terkadang diajarkan di sekolah minggu. Namun, Alkitab terdiri atas drama tunggal: masuknya Kerajaan Allah, kuasa dan kemuliaan Allah yang hidup ke dalam wilayah yang dikuasai musuh. Mulai dari Kejadian 12 sampai akhir Alkitab, dan bahkan sampai pada akhir zaman, dibukakan suatu drama tunggal yang saling berhubungan tentang Kerajaan Allah yang menyerang balik. Ini akan menjadi judul bagi Alkitab itu sendiri jika dicetak secara modern (dengan Kejadian 1 -- 11 sebagai pendahuluan bagi seluruh Alkitab). Dalam drama yang sedang dibukakan ini, kita melihat secara bertahap kuasa Allah yang tidak dapat ditolak menguasai kembali dan menebus ciptaan-Nya yang telah jatuh, dengan memberikan Anak-Nya di pusat periode 4.000 tahun, dimulai pada tahun 2000 sM. Secara ringkas, hal itu dirangkum dalam sebuah ayat: "Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu" (1 Yohanes 3:8).

Serangan balik melawan Si Jahat ini jelas tidak menunggu sampai Pribadi di pusat kisah ini muncul. Memang, saya melihat ada lima periode sebelumnya yang mendahului kedatangan Kristus dan juga lima periode sesudahnya. Tujuan utama dari artikel ini adalah menggambarkan lima periode setelah Kristus. Namun, agar periode ini terlihat sebagai bagian dari satu kisah tunggal yang dibukakan dalam sepuluh periode selama 4.000 tahun, kita akan memperhatikan beberapa petunjuk mengenai lima periode awal. Tema yang menghubungkan kesepuluh periode adalah anugerah Allah yang campur tangan dalam sebuah "dunia yang berada di bawah kuasa Si Jahat" (1 Yohanes 5:19), melawan musuh yang sementara ini adalah "ilah zaman ini" (2 Korintus 4:4) agar bangsa-bangsa dapat memuji nama Allah. Rencana-Nya untuk melakukan hal ini adalah dengan menjangkau segala suku bangsa melalui memberikan "berkat" yang tidak biasa kepada Abraham dan keturunannya (anak-anak Abraham melalui iman), bahkan ketika kita berdoa "Datanglah Kerajaan-Mu".

Berlawanan dengan itu, rencana Si Jahat adalah menodai nama Allah. Si Jahat mendatangkan kebencian, memunculkan penderitaan dan kerusakan atas ciptaan Allah yang baik, bahkan mungkin juga merusak urutan DNA. Alat Setan mungkin termasuk membuat bakteri yang jahat untuk merusak kepercayaan terhadap karakter Allah yang pengasih.

Serangan balik Allah dilaksanakan melalui berkat. Kata "berkat" dalam bahasa Inggris bukan merupakan terjemahan yang ideal. Kita melihat kata ini digunakan ketika Ishak memberikan "berkat" kepada Yakub dan bukan kepada Esau. Itu bukan "berkat-berkat", tetapi "berkat"; pemberian nama keluarga, tanggung jawab, tugas, dan hak istimewa. Itu bukan sesuatu yang dapat Anda terima atau dapatkan seperti sebuah kotak cokelat uang yang bisa Anda bawa pergi dan makan sendirian dalam gua, atau suatu kekuasaan pribadi yang baru yang dapat Anda pertunjukkan seperti otot-otot Anda. Berkat itu merupakan sesuatu yang membuat Anda menjadi berada dalam suatu hubungan dan persekutuan yang permanen dengan Bapa di surga. Itu mengembalikan "keluarga-keluarga", yaitu segala bangsa kepada rumah tangga Allah, kepada Kerajaan Allah, agar bangsa-bangsa tersebut "dapat memuji kemuliaan-Nya".

Bangsa-bangsa tidak menyatakan kemuliaan Allah karena mereka kekurangan bukti akan kemampuan Allah untuk mengatasi kejahatan. Jika Anak Allah muncul untuk menghancurkan pekerjaan Iblis, apa yang harus dilakukan para pengikut Anak Allah dan para "pewaris kerajaan" untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya? Mereka yang menerimanya karena iman dan menundukkan diri mereka kepada kehendak Allah seperti Abraham, akan mewakili penyebaran Kerajaan dan otoritas-Nya di dalam dan atas segala bangsa dan suku. Berkat Allah membawa tanggung jawab yang tidak terpisahkan, sesuai dengan makna asli dari "berkat", yang akan kita telusuri di sepanjang sejarah.

Catatan redaksi: Artikel ini adalah pendahuluan dari bab yang ditulis oleh Dr. Ralph D. Winter dalam buku "Perspectives on the World Christian Movement". Karena keterbatasan ukuran publikasi ini, kami tidak dapat mencantumkan artikel beliau secara lengkap .




UKU POMAK DI RUMANIA

Pendahuluan/Sejarah

Suku bangsa Pomak adalah orang-orang Slavia yang hidup di daerah Balkan, bagian utara benua Eropa. Suku bangsa ini biasanya dikategorikan sebagai orang Bulgaria karena mereka berbicara dengan dialek yang mirip dengan yang dipakai orang Bulgaria, memiliki ciri-ciri yang mirip dengan orang Bulgaria, dan melakukan praktik-praktik budaya yang tidak jauh berbeda dari orang-orang Bulgaria. Namun demikian, mereka berbeda karena mereka tidak menggunakan nama-nama yang umumnya dipakai oleh orang Bulgaria dan karena mereka memeluk agama Islam, bukan agama Kristen Ortodoks seperti kebanyakan orang Bulgaria. Suku Pomak mungkin mulai memeluk agama Islam pada tahun 1370-an. Sebuah tradisi mengatakan bahwa sebenarnya, mereka tidak memeluk agama Islam dengan sukarela, mereka dipaksa untuk melakukannya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, suku Pomak mulai mengadopsi berbagai budaya-budaya Islam, seperti mengharuskan para perempuan mereka memakai jilbab.

"Pomak" berarti "orang-orang yang menderita". Sepanjang sejarah, suku bangsa ini dianggap sebagai orang-orang buangan oleh masyarakat Bulgaria. Pada tahun 1948, rezim komunis mulai mengusir keluar orang-orang yang dianggap tidak setia terhadap pemerintahan mereka. Pada tahun 1950, rezim itu mulai menganiaya suku ini. Akibatnya, 30.000 orang Pomak terpaksa keluar dari negara mereka dan mengungsi ke wilayah timur laut Yunani dan Makedonia, sementara yang lainnya berimigrasi ke Rumania.

Tak hanya menggunakan bahasa Rhodope (Bulgarski), sebagian suku Pomak juga mengadopsi bahasa Yunani atau Makedonia sebagai bahasa kedua mereka. Selama bertahun-tahun, mereka hidup terasing dari masyarakat di sekitar wilayah itu, tetapi modernisasi memaksa mereka untuk berinteraksi dengan dunia luar.

Seperti Apa Kehidupan Mereka?

Kehidupan ekonomi orang Pomak berpusat pada pertanian. Hasil bumi utama mereka adalah gandum hitam, jelai, jagung, flax (tanaman yang menjadi bahan baku untuk membuat kain linen -- red.), kentang, tembakau, dan rami. Bagi mereka, memelihara hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba juga menjadi sesuatu yang sangat penting. Kaum perempuan suku Pomak terkenal karena keterampilan mereka dalam membuat kain tenun. Selain itu, suku ini juga ada yang bekerja sebagai pekerja migran. Makanan utama orang Pomak biasanya terdiri atas roti gandum, kentang, dan kacang-kacangan. Mereka juga sangat menyukai yoghurt, berbagai jenis keju, dan daging kambing ataupun domba.

Para petani Pomak tinggal di desa-desa di luar kota, rumah mereka dikelilingi oleh ladang dan padang rumput. Rumah mereka biasanya memiliki dua tingkat, lantai teratas dipakai untuk tempat tinggal, sementara yang di bawah menjadi istal atau tempat memelihara hewan. Rumah-rumah mereka biasanya berbahan dasar batu, kayu, dan tanah liat dengan genting yang terbuat dari batu. Namun demikian, dalam beberapa tahun belakangan ini sebagian orang Pomak telah membangun rumah mereka dengan batu bata dan memakai genting keramik.

Secara tradisi, pernikahan menurut adat Pomak direncanakan sejak awal oleh keluarga dari pihak calon mempelai laki-laki dan perempuan. Pernikahan itu dilaksanakan di akhir masa remaja kedua calon mempelai tersebut. Sebelum melaksanakan pernikahan, mempelai perempuan mempersiapkan maharnya sendiri yang biasanya terdiri atas perabot rumah tangga dan pakaian. Meskipun hukum Islam memperbolehkan seorang laki-laki memiliki sampai 4 orang istri, tetapi poligami jarang terjadi di dalam pernikahan suku Pomak, lagi pula hal itu dilarang oleh hukum Yunani.

Apa Kepercayaan Mereka?

Secara kasat mata, mayoritas orang Pomak menganut agama Islam, dan agama mereka itu menjadi bagian integral dari identitas etnis mereka. Namun demikian, praktik-praktik tradisi Islam tidak begitu nyata terlihat dalam kehidupan kebanyakan orang Pomak. Bahkan, mereka tidak memiliki istilah-istilah yang sebenarnya penting dalam agama maupun tradisi Islam. Mereka juga tidak banyak mengenal orang-orang suci dalam agama Islam, sebaliknya sampai saat ini mereka masih menjalankan hari-hari raya yang berkaitan dengan orang-orang suci dalam agama Kristen.

Dalam upacara pernikahan maupun berbagai upacara-upacara lainnya, orang Pomak sering kali menggabungkan tradisi Islam dan Kristen. Mereka memang melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan dan ritual-ritual Islam lainnya, tetapi saat ini tradisi-tradisi semacam itu sudah banyak yang hilang. Pengasingan yang dilakukan terhadap suku Pomak oleh kelompok Muslim yang lain telah menyebabkan percampuran kepercayaan itu tidak terhindarkan selama berabad-abad.

Apakah Kebutuhan Mereka?

Suku bangsa Pomak sedang menghadapi krisis identitas. Bangsa Bulgaria menolak mereka karena agama yang mereka peluk, sementara bangsa Turki menolak mereka karena bahasa yang mereka gunakan.

Saat ini, ada banyak sekte agama yang juga mulai masuk ke tengah-tengah suku Pomak untuk berusaha memenangkan hati dan pikiran mereka. Suku Pomak membutuhkan Injil dan orang-orang yang dengan setia berdoa bagi mereka untuk mendobrak benteng-benteng yang selama ini memperbudak kehidupan rohani mereka. Hanya setelah benteng-benteng itu diruntuhkan, hati orang-orang Pomak dapat siap untuk menerima Kabar Baik saat kabar itu dinyatakan kepada mereka.

Pokok Doa:

1. Mintalah kepada Tuhan Yesus supaya orang-orang Pomak dapat menemukan identitas mereka yang hilang di dalam Yesus.

2. Doakanlah supaya ada pendeta-pendeta yang dibangkitkan dan dilatih untuk melayani di tengah-tengah suku Pomak.

3. Mintalah kepada Allah supaya orang-orang Pomak yang sudah percaya dapat memberi kesaksian secara kreatif dan berani kepada suku mereka, seperti melalui upacara-upacara pernikahan dan peringatan hari-hari raya.

4. Mintalah supaya Allah mendatangkan kelaparan rohani ke tengah-tengah suku Pomak.

5. Mintalah supaya Allah membangkitkan kelompok-kelompok pendoa yang dengan setia berdoa bagi orang-orang Pomak.


    http://perspektif.co/Kerajaan_Menyerang_Balik:_Sepuluh_Periode_dari_Sejarah_Penebusan












Selasa, 18 Maret 2014

ETOS KERJA KRISTEN



Bacaan: Efesus 4:28
              2 Tesalonika 3:1-15

Alkitab menjelaskan secara jelas bahwa manusia diciptakan dengan jiwa dan natur yang bekerja. Manusia diberi mandat oleh Tuhan untuk mengusahakan dan memelihara taman secara seimbang. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar ekonomi (oikos-nomos), yaitu kita diberi akal budi dan kemampuan, dipanggil Tuhan menjadi pengelola sehingga menyejahterakan semua bagian. Manusia diberi kuasa untuk mengelola dan bertanggung jawab kepada Sang Pemberi otoritas. Dengan demikian, ketika bekerja, manusia harus bertanggung jawab terhadap Tuhan.

Salah satu masalah yang paling serius dibicarakan dalam bagian ini adalah 2 Tesalonika 3, yang seolah-olah menjelaskan bahwa kekristenan menjadi agama yang penuh cinta kasih sehingga harus berbelas kasihan, memberikan segala sesuatu, dan memperhatikan kemiskinan dengan luar biasa. Kekristenan memang merupakan agama yang penuh cinta kasih, tetapi itu tidak dilakukan begitu saja karena kita harus mengerti bagaimana memberi secara tepat. Paulus mengingatkan, "Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna." (2 Tesalonika 3:11) Ia juga berkata, "... jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." Menurut saya, prinsip ini harus tegas sehingga kita mengerti bagaimana kita harus berdaya guna. Ketika mempersiapkan bagian ini, saya tertarik dengan satu buku yang ditulis oleh dua orang Belanda, profesor bidang sosiologi dan sosial dari World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja Sedunia). Buku "Di Balik Kemiskinan dan Kemakmuran" (Beyond Poverty and Affluence) oleh Bob Goudzwaard dan Harry De Lange, diterbitkan oleh Kanisius, tahun 1998. Buku tersebut membicarakan aspek kekayaan dan kemiskinan, penulis mengemukakan enam paradoks permasalahan yang kita hadapi. Mereka membuka fakta enam paradoks di tengah abad modern yang berkembang, yang kelihatannya sangat bertentangan tetapi sebenarnya sangat terkait satu sama lain.

A. Paradoks Kelangkaan. 
Kekayaan manusia seharusnya dapat dipakai untuk mengelola kesejahteraan. Akan tetapi, justru terjadi kelangkaan yang bukan disebabkan oleh tidak adanya kekuatan mendayagunakan karena begitu banyak produksi yang diperlakukan secara tidak beres. Berjuta liter susu dibuang di sungai padahal banyak anak dalam kondisi kekurangan gizi dan membutuhkan susu. Demikian juga halnya dengan jeruk yang seharusnya dapat menjadi vitamin tanpa harus minum minuman yang mengandung bahan kimia, tetapi itu semua dihancurkan demi harga produksi menjadi tidak murah. Ketika daya begitu besar, pada saat yang sama terjadi perusakan dan penghancuran sumber yang seharusnya dapat dipakai oleh manusia.

B. Paradoks Kemiskinan.
Meski negara-negara adikuasa semakin kaya, persentase peningkatan kemiskinan lebih besar daripada peningkatan pendapatannya karena hanya sekelompok orang yang bertambah kaya. Seperti yang pernah saya katakan, jika tidak hati-hati, di Indonesia akan tercipta generasi pengemis dan orang-orang yang menciptakan citra kemiskinan masa depan. Karena sistem, pola dari cara kerja, atau kebijaksanaan pemerintah telah kehilangan harga diri sehingga membuat kita mudah menjadi pengemis. Sungguh ini merupakan paradoks karena di satu pihak, kita melihat dunia semakin hari semakin sejahtera dan makmur, namun kenyataannya tidak meniadakan jumlah pengemis yang semakin meningkat jumlahnya.
C. Paradoks Sensitivitas Kepedulian.
Di satu pihak, seharusnya setiap kita semakin maju dan makmur, semakin memikirkan kesejahteraan orang lain. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya, kita berpikir bagaimana dapat menggunakannya untuk memanipulasi orang lain. Etos dan format kerja yang sudah diciptakan seharusnya memberi pengaruh positif pada seluruh cara hidup kita.
D. Paradoks Ketenagakerjaan. 
Di satu pihak, banyak yang membutuhkan tenaga kerja, tetapi di lain pihak, tidak ada tenaga kerja yang memadai dan tidak ada kesempatan kerja karena tidak adanya kemampuan untuk pekerjaan yang dibutuhkan, sehingga pengangguran semakin meningkat. Di sini, persoalannya adalah bagaimana mendidik dan menuntut kualitas orang bekerja untuk masuk dalam garis manusia. Fakta yang harus kita lihat adalah jutaan tenaga kerja yang bekerja dalam kondisi nonmanusia karena sering kali, mereka sengaja tidak diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas mereka dengan tujuan supaya mereka dapat diatur dan dimanipulasi. Itu merupakan pemikiran yang sangat pragmatis dan mengakibatkan kerugian besar karena berarti mereka tidak mampu memikirkan kesejahteraan secara totalitas.
E. Paradoks Waktu. 
Kita makin mempunyai kemampuan teknologi yang mengefisienkan waktu, namun kita bukan semakin kelebihan waktu tetapi justru kekurangan waktu dan semakin kekurangan kemampuan untuk menata waktu. Alkitab menuntut keseimbangan bekerja secara tepat. Pertama, kekristenan menuntut kita memberikan waktu untuk melayani dan mencurahkan pikiran bagi Tuhan (Efesus 4:1-16). Kedua, Tuhan memanggil kita untuk dikirim kembali ke dunia, bekerja, menghasilkan buah, dan menjadi teladan. Ketiga, bagaimana kita menjadi orang yang hidup sepadan di tengah keluarga sehingga mampu melayani Tuhan, bekerja serta memberikan kesaksian yang baik di tengah keluarga (Efesus 5). Ini kembali pada pengertian kita tentang apa itu bekerja, bagaimana bekerja yang tepat dan diseimbangkan dengan pelayanan, keluarga serta semua aspek yang lain.
F. Paradoks Kesehatan. 
Ketika negara makin maju, ternyata penyakit juga semakin banyak. Kemajuan teknologi, perkembangan sosial masyarakat tidak menjadikan manusia bertambah sehat. Goudzwaard dan De Lange menyatakan 3 problem utama yang menyebabkan terjadinya keenam hal di atas, yaitu: 1) Kemiskinan, 2) Ketenagakerjaan, 3) Lingkungan (Environment). Namun, saya sangat tidak setuju dengan solusi yang sangat humanis yang mereka kemukakan, yaitu "Mari kita kembali pada inti Ekonomi, 'Manusia dan kebutuhannya'" (Man and his needs). Sebab, firman Tuhan mengajarkan bagaimana saya bertanggung jawab di hadapan Allah mengelola alam semesta demi kesejahteraan manusia. Kalau manusia hanya memikirkan kebutuhannya, yang menjadi pusat adalah manusia, dan itu akan merusak seluruh sistem karena yang terjadi adalah saling berbenturan kebutuhan, yang akhirnya menjadi titik terciptanya destruksi dan tidak adanya penyelesaian apa pun.

Selanjutnya, bagaimana kita menurunkan format Kristen yang seharusnya dalam bekerja? Kejadian 2:15 dan Efesus 4:28 menyatakan bahwa kita harus bekerja keras dalam mengerjakan setiap pekerjaan yang telah dipersiapkan Allah dengan tangan kita sendiri agar menjadi berkat bagi orang lain. Dengan demikian, citra kerja Kristen:
  1. Kerja yang berorientasi pada Allah ("God centre work") dan bukan pada diri, uang, kenikmatan, serta sekularisme atau keduniawian. Mari kita mulai berpikir mengubah paradigma total, yang berarti mengubah dari format dasarnya menjadi "Segala sesuatu adalah dari Allah, kepada Allah, dan untuk Allah, bagi Allah kemuliaan untuk selama-lamanya". Dengan demikian, ketika kita bekerja dan mulai studi hingga mulai menyelesaikan dan sampai masuk ke dunia kerja, memikirkan pekerjaan apa yang Tuhan bebankan kepada kita itulah yang akan kita genapkan. Sekalipun beban begitu besar, tetapi kita mempunyai kekuatan untuk menerobos dan tidak mudah patah karena itu dikerjakan bukan demi kepentingan kita sendiri.
  2. Orientasi kerja berada pada tanggung jawab dan bukan pada hasil. Sering kali, ketika kita bekerja dan bersekolah, orientasinya selalu pada hasil. Akibatnya, kita tidak mungkin mencapai ketenangan. Dalam Alkitab dikatakan bahwa berikanlah kepada kami makanan kami yang secukupnya hari ini. Di sini, kita belajar bagaimana dapat bersandar; tahu mana bagian Tuhan dan bagian kita.
  3. Perjuangan mencapai kualitas tertinggi yang mungkin kita capai. Orang Kristen tidak pernah diajar untuk membandingkan diri dengan orang lain. Semangat kerja mengejar mutu yang tertinggi yang mampu kita perjuangkan, tidak pernah takut susah, dan mau berkembang mencapai titik maksimal, itu yang harus kita miliki. Kalau kita berhenti (kecuali merupakan titik maksimal) itu berarti kita tidak bertanggung jawab terhadap setiap talenta yang Tuhan berikan.
  4. Etika yang sejati (Truth Ethics). Etika yang sejati adalah panggilan kerja Kristen. Orang Kristen bukan hanya sekadar memiliki semangat kerja yang keras. Dalam Efesus 4 dikatakan, bahwa orang percaya harus "melakukan pekerjaan baik" dalam mencapai kualitas etik yang mencakup ketiga hal, yaitu tujuan, motivasi, dan cara yang baik. Ini merupakan satu prinsip penting dalam cara bekerja! Sebab, jika orang Kristen bekerja, namun tidak dapat menjadi garam di dunia kerja, ia seperti yang dikatakan dalam Alkitab, kalau garam telah hilang asinnya, itu akan dibuang dan diinjak orang.
  5. Pertimbangan altruistis/memikirkan berkat bagi orang lain (Altruistic Consideration). Berpikir bahwa apa yang Tuhan percayakan kepada kita juga harus disalurkan kepada orang lain karena baik otak, kemampuan, kesempatan, harta, maupun segala sesuatu adalah dari Tuhan. Ketika kita mendapatkan hasil dari apa yang kita kerjakan, kita harus belajar untuk berbagi dengan mereka yang kekurangan.
  6. Menjadi berkat buat seluruh alam semesta. Kita harus dapat bekerja mendayagunakan dan mengembangkan seluruh sumber daya dan potensi alam untuk kesejahteraan seluruh alam. Dengan demikian, kerja Kristen merupakan kerja yang memikirkan enam aspek yang membuat seluruh cara kerja Kristen diberkati. Jadi, kerja Kristen bukan saja sebagai suatu keharusan, tetapi juga sebagai tanda atau bentuk keunikan dalam bekerja. Mungkin, tidak mudah mendobrak konsep yang sudah bertahun-tahun kita pegang, tetapi saya minta setiap kita mempunyai jiwa mengubah konsep tersebut, berproses maju selangkah demi selangkah, mengubah cara kerja, hidup pelayanan, dan seluruh inti utama dari kerja dan studi kita supaya boleh kembali untuk kemuliaan Tuhan. ............Amin.

Diambil dan disunting dari:
Nama situs: GRIIS
Alamat URL: http://griis.tripod.com/ringkasan_kotbah/19991212.htm