"Kerajaan Menyerang Balik" adalah judul terjemahan dari artikel berjudul
"Kingdom Strikes Back" yang ditulis oleh Dr. Ralph D. Winter. Dalam
artikel yang menarik itu, Dr. Winter memaparkan secara panjang lebar
mengenai inisiatif Allah untuk menebus umat-Nya dalam rentang sejarah.
Kami sangat mendorong Pembaca mengunjungi situs Perspektif.co untuk
dapat membaca artikel ini (dan artikel-artikel menarik lainnya) secara
lengkap.
Jangan lupa menyimak juga profil suku bangsa Pomak yang
berdiam di wilayah Rumania yang kami sajikan dalam edisi ini. Kiranya
apa yang kami sajikan pada edisi ini dapat semakin mengobarkan semangat
Pembaca sekalian dalam ikut serta menggenapi Amanat Agung. Selamat
membaca. Tuhan Yesus memberkati!
KERAJAAN MENYERANG BALIK: SEPULUH PERIODE DARI SEJARAH PENEBUSAN
Manusia sesungguhnya telah menghapus kisahnya sendiri. Sejauh catatan
paleologis (kepurbakalaan) apa pun yang kita miliki, umat manusia telah
begitu sering bertarung satu sama lain dan telah menghancurkan lebih
dari 90 persen hasil karya mereka sendiri. Perpustakaan mereka,
literatur mereka, kota-kota mereka, karya seni mereka, hampir seluruhnya
sudah tiada. Bahkan, yang kecil yang tersisa dari masa lalu menunjukkan
bukti-bukti kejahatan yang aneh dan menyeluruh, yang secara menjijikkan
telah merusak potensi manusia. Ini aneh karena kelihatannya tidak ada
spesies lain yang memperlakukan sesamanya dengan kebencian yang
mematikan seperti itu. Tengkorak-tengkorak tertua merupakan saksi bisu
bahwa mereka dihantam dengan keras dan dipanggang agar organ tubuhnya
menjadi makanan bagi manusia lain.
Sejumlah besar bakteri
penyakit juga memangkas pertumbuhan populasi. Populasi dunia pada masa
Abraham diperkirakan sekitar 27 juta orang -- kurang dari populasi
California pada tahun 2000. Tetapi, pertumbuhan populasi yang lambat
pada masa Abraham merupakan bukti mengerikan dari kombinasi
menghancurkan antara wabah dan perang, keduanya menjadi saksi akan
dampak dari Si Jahat. Rata-rata pertumbuhan populasi dunia waktu itu
hanya seperenambelas dari rata-rata pertumbuhan global masa kini.
Ketika
kebencian dan penyakit ditaklukkan, populasi dunia langsung meningkat.
Jika rata-rata pertumbuhan global masa kini yang relatif lambat terjadi
di masa Abraham, populasi dunia kita yang sekarang ini (sekitar 6 miliar
orang) telah dicapai hanya dalam waktu 321 tahun! Jadi, pada masa itu,
kejahatan yang menghancurkan kehidupan pasti jauh lebih merajalela
daripada sekarang. Jadi, tidak heran kita menemukan bahwa penjelasan
bagi kejahatan yang aneh ini muncul dalam catatan tertulis tertua yang
rinci -- dokumen-dokumen yang bertahan, yang dihormati oleh tradisi
Yahudi, Kristen dan M, di mana para penganutnya terdiri lebih dari
setengah populasi dunia. Dokumen-dokumen ini disebut "Torah" oleh orang
Yahudi, "Kitab-kitab Taurat" oleh orang-orang Kristen, dan "Taurat" oleh
orang-orang M. Dokumen itu tidak hanya menjelaskan sumber kejahatan,
tetapi juga menggambarkan suatu serangan balik terhadap kejahatan itu,
dokumen tersebut mengikuti perkembangan serangan tersebut di sepanjang
sejarah.
Lebih spesifik lagi, sebelas pasal pertama dari kitab
Kejadian yang membentuk suatu "pendahuluan" dari seluruh permasalahan,
merupakan plot dari seluruh Alkitab. Halaman-halaman tersebut
menggambarkan tiga hal: (1) ciptaan awal yang indah dan "baik"; (2)
masuknya kejahatan, yang memberontak dan merusak -- manusia yang mau
menjadi sama dengan Tuhan, tergoda oleh setan -- sehingga menghasilkan,
(3) kemanusiaan yang terperangkap dalam pemberontakan dan berada di
bawah kuasa Si Jahat.
Seluruh Alkitab bukan hanya suatu kumpulan
kisah yang tidak saling berhubungan seperti yang terkadang diajarkan di
sekolah minggu. Namun, Alkitab terdiri atas drama tunggal: masuknya
Kerajaan Allah, kuasa dan kemuliaan Allah yang hidup ke dalam wilayah
yang dikuasai musuh. Mulai dari Kejadian 12 sampai akhir Alkitab, dan
bahkan sampai pada akhir zaman, dibukakan suatu drama tunggal yang
saling berhubungan tentang Kerajaan Allah yang menyerang balik. Ini akan
menjadi judul bagi Alkitab itu sendiri jika dicetak secara modern
(dengan Kejadian 1 -- 11 sebagai pendahuluan bagi seluruh Alkitab).
Dalam drama yang sedang dibukakan ini, kita melihat secara bertahap
kuasa Allah yang tidak dapat ditolak menguasai kembali dan menebus
ciptaan-Nya yang telah jatuh, dengan memberikan Anak-Nya di pusat
periode 4.000 tahun, dimulai pada tahun 2000 sM. Secara ringkas, hal itu
dirangkum dalam sebuah ayat: "Untuk inilah Anak Allah menyatakan
diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu" (1
Yohanes 3:8).
Serangan balik melawan Si Jahat ini jelas tidak
menunggu sampai Pribadi di pusat kisah ini muncul. Memang, saya melihat
ada lima periode sebelumnya yang mendahului kedatangan Kristus dan juga
lima periode sesudahnya. Tujuan utama dari artikel ini adalah
menggambarkan lima periode setelah Kristus. Namun, agar periode ini
terlihat sebagai bagian dari satu kisah tunggal yang dibukakan dalam
sepuluh periode selama 4.000 tahun, kita akan memperhatikan beberapa
petunjuk mengenai lima periode awal. Tema yang menghubungkan kesepuluh
periode adalah anugerah Allah yang campur tangan dalam sebuah "dunia
yang berada di bawah kuasa Si Jahat" (1 Yohanes 5:19), melawan musuh
yang sementara ini adalah "ilah zaman ini" (2 Korintus 4:4) agar
bangsa-bangsa dapat memuji nama Allah. Rencana-Nya untuk melakukan hal
ini adalah dengan menjangkau segala suku bangsa melalui memberikan
"berkat" yang tidak biasa kepada Abraham dan keturunannya (anak-anak
Abraham melalui iman), bahkan ketika kita berdoa "Datanglah
Kerajaan-Mu".
Berlawanan dengan itu, rencana Si Jahat adalah
menodai nama Allah. Si Jahat mendatangkan kebencian, memunculkan
penderitaan dan kerusakan atas ciptaan Allah yang baik, bahkan mungkin
juga merusak urutan DNA. Alat Setan mungkin termasuk membuat bakteri
yang jahat untuk merusak kepercayaan terhadap karakter Allah yang
pengasih.
Serangan balik Allah dilaksanakan melalui berkat. Kata
"berkat" dalam bahasa Inggris bukan merupakan terjemahan yang ideal.
Kita melihat kata ini digunakan ketika Ishak memberikan "berkat" kepada
Yakub dan bukan kepada Esau. Itu bukan "berkat-berkat", tetapi "berkat";
pemberian nama keluarga, tanggung jawab, tugas, dan hak istimewa. Itu
bukan sesuatu yang dapat Anda terima atau dapatkan seperti sebuah kotak
cokelat uang yang bisa Anda bawa pergi dan makan sendirian dalam gua,
atau suatu kekuasaan pribadi yang baru yang dapat Anda pertunjukkan
seperti otot-otot Anda. Berkat itu merupakan sesuatu yang membuat Anda
menjadi berada dalam suatu hubungan dan persekutuan yang permanen dengan
Bapa di surga. Itu mengembalikan "keluarga-keluarga", yaitu segala
bangsa kepada rumah tangga Allah, kepada Kerajaan Allah, agar
bangsa-bangsa tersebut "dapat memuji kemuliaan-Nya".
Bangsa-bangsa
tidak menyatakan kemuliaan Allah karena mereka kekurangan bukti akan
kemampuan Allah untuk mengatasi kejahatan. Jika Anak Allah muncul untuk
menghancurkan pekerjaan Iblis, apa yang harus dilakukan para pengikut
Anak Allah dan para "pewaris kerajaan" untuk mendatangkan kemuliaan bagi
nama-Nya? Mereka yang menerimanya karena iman dan menundukkan diri
mereka kepada kehendak Allah seperti Abraham, akan mewakili penyebaran
Kerajaan dan otoritas-Nya di dalam dan atas segala bangsa dan suku.
Berkat Allah membawa tanggung jawab yang tidak terpisahkan, sesuai
dengan makna asli dari "berkat", yang akan kita telusuri di sepanjang
sejarah.
Catatan redaksi: Artikel ini adalah pendahuluan dari bab
yang ditulis oleh Dr. Ralph D. Winter dalam buku "Perspectives on the
World Christian Movement". Karena keterbatasan ukuran publikasi ini,
kami tidak dapat mencantumkan artikel beliau secara lengkap .
UKU POMAK DI RUMANIA
Pendahuluan/Sejarah
Suku bangsa Pomak
adalah orang-orang Slavia yang hidup di daerah Balkan, bagian utara
benua Eropa. Suku bangsa ini biasanya dikategorikan sebagai orang
Bulgaria karena mereka berbicara dengan dialek yang mirip dengan yang
dipakai orang Bulgaria, memiliki ciri-ciri yang mirip dengan orang
Bulgaria, dan melakukan praktik-praktik budaya yang tidak jauh berbeda
dari orang-orang Bulgaria. Namun demikian, mereka berbeda karena mereka
tidak menggunakan nama-nama yang umumnya dipakai oleh orang Bulgaria dan
karena mereka memeluk agama Islam, bukan agama Kristen Ortodoks seperti
kebanyakan orang Bulgaria. Suku Pomak mungkin mulai memeluk agama Islam
pada tahun 1370-an. Sebuah tradisi mengatakan bahwa sebenarnya, mereka
tidak memeluk agama Islam dengan sukarela, mereka dipaksa untuk
melakukannya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, suku Pomak mulai
mengadopsi berbagai budaya-budaya Islam, seperti mengharuskan para
perempuan mereka memakai jilbab.
"Pomak" berarti "orang-orang
yang menderita". Sepanjang sejarah, suku bangsa ini dianggap sebagai
orang-orang buangan oleh masyarakat Bulgaria. Pada tahun 1948, rezim
komunis mulai mengusir keluar orang-orang yang dianggap tidak setia
terhadap pemerintahan mereka. Pada tahun 1950, rezim itu mulai
menganiaya suku ini. Akibatnya, 30.000 orang Pomak terpaksa keluar dari
negara mereka dan mengungsi ke wilayah timur laut Yunani dan Makedonia,
sementara yang lainnya berimigrasi ke Rumania.
Tak hanya
menggunakan bahasa Rhodope (Bulgarski), sebagian suku Pomak juga
mengadopsi bahasa Yunani atau Makedonia sebagai bahasa kedua mereka.
Selama bertahun-tahun, mereka hidup terasing dari masyarakat di sekitar
wilayah itu, tetapi modernisasi memaksa mereka untuk berinteraksi dengan
dunia luar.
Seperti Apa Kehidupan Mereka?
Kehidupan
ekonomi orang Pomak berpusat pada pertanian. Hasil bumi utama mereka
adalah gandum hitam, jelai, jagung, flax (tanaman yang menjadi bahan
baku untuk membuat kain linen -- red.), kentang, tembakau, dan rami.
Bagi mereka, memelihara hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba
juga menjadi sesuatu yang sangat penting. Kaum perempuan suku Pomak
terkenal karena keterampilan mereka dalam membuat kain tenun. Selain
itu, suku ini juga ada yang bekerja sebagai pekerja migran. Makanan
utama orang Pomak biasanya terdiri atas roti gandum, kentang, dan
kacang-kacangan. Mereka juga sangat menyukai yoghurt, berbagai jenis
keju, dan daging kambing ataupun domba.
Para petani Pomak tinggal
di desa-desa di luar kota, rumah mereka dikelilingi oleh ladang dan
padang rumput. Rumah mereka biasanya memiliki dua tingkat, lantai
teratas dipakai untuk tempat tinggal, sementara yang di bawah menjadi
istal atau tempat memelihara hewan. Rumah-rumah mereka biasanya berbahan
dasar batu, kayu, dan tanah liat dengan genting yang terbuat dari batu.
Namun demikian, dalam beberapa tahun belakangan ini sebagian orang
Pomak telah membangun rumah mereka dengan batu bata dan memakai genting
keramik.
Secara tradisi, pernikahan menurut adat Pomak
direncanakan sejak awal oleh keluarga dari pihak calon mempelai
laki-laki dan perempuan. Pernikahan itu dilaksanakan di akhir masa
remaja kedua calon mempelai tersebut. Sebelum melaksanakan pernikahan,
mempelai perempuan mempersiapkan maharnya sendiri yang biasanya terdiri
atas perabot rumah tangga dan pakaian. Meskipun hukum Islam
memperbolehkan seorang laki-laki memiliki sampai 4 orang istri, tetapi
poligami jarang terjadi di dalam pernikahan suku Pomak, lagi pula hal
itu dilarang oleh hukum Yunani.
Apa Kepercayaan Mereka?
Secara
kasat mata, mayoritas orang Pomak menganut agama Islam, dan agama
mereka itu menjadi bagian integral dari identitas etnis mereka. Namun
demikian, praktik-praktik tradisi Islam tidak begitu nyata terlihat
dalam kehidupan kebanyakan orang Pomak. Bahkan, mereka tidak memiliki
istilah-istilah yang sebenarnya penting dalam agama maupun tradisi
Islam. Mereka juga tidak banyak mengenal orang-orang suci dalam agama
Islam, sebaliknya sampai saat ini mereka masih menjalankan hari-hari
raya yang berkaitan dengan orang-orang suci dalam agama Kristen.
Dalam
upacara pernikahan maupun berbagai upacara-upacara lainnya, orang Pomak
sering kali menggabungkan tradisi Islam dan Kristen. Mereka memang
melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan dan ritual-ritual Islam
lainnya, tetapi saat ini tradisi-tradisi semacam itu sudah banyak yang
hilang. Pengasingan yang dilakukan terhadap suku Pomak oleh kelompok
Muslim yang lain telah menyebabkan percampuran kepercayaan itu tidak
terhindarkan selama berabad-abad.
Apakah Kebutuhan Mereka?
Suku
bangsa Pomak sedang menghadapi krisis identitas. Bangsa Bulgaria
menolak mereka karena agama yang mereka peluk, sementara bangsa Turki
menolak mereka karena bahasa yang mereka gunakan.
Saat ini, ada
banyak sekte agama yang juga mulai masuk ke tengah-tengah suku Pomak
untuk berusaha memenangkan hati dan pikiran mereka. Suku Pomak
membutuhkan Injil dan orang-orang yang dengan setia berdoa bagi mereka
untuk mendobrak benteng-benteng yang selama ini memperbudak kehidupan
rohani mereka. Hanya setelah benteng-benteng itu diruntuhkan, hati
orang-orang Pomak dapat siap untuk menerima Kabar Baik saat kabar itu
dinyatakan kepada mereka.
Pokok Doa:
1. Mintalah kepada Tuhan Yesus supaya orang-orang Pomak dapat menemukan identitas mereka yang hilang di dalam Yesus.
2. Doakanlah supaya ada pendeta-pendeta yang dibangkitkan dan dilatih untuk melayani di tengah-tengah suku Pomak.
3.
Mintalah kepada Allah supaya orang-orang Pomak yang sudah percaya dapat
memberi kesaksian secara kreatif dan berani kepada suku mereka, seperti
melalui upacara-upacara pernikahan dan peringatan hari-hari raya.
4. Mintalah supaya Allah mendatangkan kelaparan rohani ke tengah-tengah suku Pomak.
5. Mintalah supaya Allah membangkitkan kelompok-kelompok pendoa yang dengan setia berdoa bagi orang-orang Pomak.
http://perspektif.co/Kerajaan_Menyerang_Balik:_Sepuluh_Periode_dari_Sejarah_Penebusan