Keinginan versus God
Point
( 2 Samuel
11:1-27)
Umumnya, dosa bermula dari
penglihatan, stimulus tersebut direspon oleh hati dan otak. Kedua objek
tersebut beradu dan berlaga dalam diri manusia, Antara otak yang didominasi
oleh keinginan daging versus hati sebagai pusat keinginan Roh. Dari hati kita
akan terpancar buah-buah roh yang dalam hal ini saya sebut sebagai suatu titik
yang dikuasai oleh suara Tuhan (God point). Menurut saya, pada setiap umat
manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna, normalnya proses ini akan
terjadi. Stimulus yang diterima oleh panca indra kita, umumnya mata dan telinga
lalu direspon oleh otak dan hati akan menghasilkan reaksi, emosi dan tindakan.
Dalam fase inilah terjadi pertarungan antara keinginan daging dengan God point
yang terletak pada hati kita.
Ketika saya kembali membaca dan
melihat beberapa kasus yang terdapat dalam kisah Alkitab kita, misalnya
pengalaman raja Daud,yang prosesnya diawali dengan melihat, menginginkan, dan mengambil, itulah
yang sering menjadi pola orang saat akan
jatuh ke dalam dosa (bdk. Kej. 3:6; Yak. 1:14-15). Pola ini pula yang
tampaknya terjadi pada diri Daud dalam hubungannya dengan seorang wanita yang sudah
bersuami yaitu Batsyeba. Waktu itu Yoab masih berusaha menundukkan bangsa Amon
dalam pertempuran di Raba. Ke mana Daud? Daud malah tinggal di
Yerusalem
Padahal penulis 2 Samuel
menyebutkan, biasanya raja-raja berperang pada saat pergantian tahun.
Dengan tinggal saja di Yerusalem berarti Daud tidak memperlihatkan tanggung
jawabnya sebagai panglima perang
kerajaan dan ikut berbagi beban dengan para prajuritnya dalam membela kerajaan.
Pada saat ia bersantai-santai itulah pencobaan datang. Ia melihat seorang perempuan sedang mandi. Orang mungkin saja melihat tanpa disengaja. Masalahnya, Daud tidak berhenti melihat dan setelah melihat ia menginginkan perempuan itu, yang ternyata bernama Batsyeba, istri Uria . Lalu tahap menginginkan itu dilanjutkan dengan tahap mengambil Batsyeba dan tidur dengan perempuan itu. Kesadaran akan bahaya baru muncul setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa ia mengandung . Maka yang muncul kemudian adalah muslihat untuk menutupi dosa, mulai dari cara yang halus, yang kotor, sampai yang bersifat kriminal , yang ditujukan kepada Uria, suami Batsyeba.
Pada saat ia bersantai-santai itulah pencobaan datang. Ia melihat seorang perempuan sedang mandi. Orang mungkin saja melihat tanpa disengaja. Masalahnya, Daud tidak berhenti melihat dan setelah melihat ia menginginkan perempuan itu, yang ternyata bernama Batsyeba, istri Uria . Lalu tahap menginginkan itu dilanjutkan dengan tahap mengambil Batsyeba dan tidur dengan perempuan itu. Kesadaran akan bahaya baru muncul setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa ia mengandung . Maka yang muncul kemudian adalah muslihat untuk menutupi dosa, mulai dari cara yang halus, yang kotor, sampai yang bersifat kriminal , yang ditujukan kepada Uria, suami Batsyeba.
Melihat, menginginkan, dan
mengambil merupakan suatu proses yang tidak berdiri sendiri, melainkan
berkaitan dan berkembang. Jadi dosa tidak bersifat stagnan atau statis. Dosa
seperti bola salju, semakin digelindingkan akan semakin besar, ketika
kita lebih didominasi oleh keinginan daging dan pikiran manusia duniawi tanpa
mempertimbangkan suara yang muncul dari hati yang kita sebut sebagai God point !
Dimulai dari berzinah dengan istri orang lain yang ia kenal, bahkan
bawahanya hingga "membunuh" suami perempuan itu.Pikiran manusiawi
yang mendominasi hatinya, sehingga dia menggunakan kesempatan yang ia miliki,
dan seolah-olah ia hanya memperhitungkan manusia dalam keputusannya, Daud lupa Sang
Khalik yang Maha Tau. Meski
dilakukan sembunyi-sembunyi dan hanya diketahui sedikit orang, tetapi penulis 2
Samuel menyatakan bahwa dosa yang dilakukan Daud adalah sesuatu yang jahat di
mata Tuhan. Ini menjadi suatu peringatan keras bagi kita. Jangan pernah
bermain-main dengan dosa, namun dalam mengambil keputusan pertimbangan yang
utama adalah suara Roh yang keluar dari hati kita yang saya sebut sebagai God
Point. Bila itu kita lakukan, saya yakin kita akan terlepas dari jerat iblis
yang dating menyerang kita melalui keinginan daging. Namun demikian, Dia yang
maha Kasih, akan memberi kesematan buat kita melalui PutraNya Yesus Kristus.
Bila suatu waktu kita jatuh ke dalam dosa, jangan berkubang di dalamnya dan
segeralah keluar, ulurkan tangan kita padaNya, Dia pasti tolong kita. Mintalah
pengampunan Sang Penebus, terima Dia dalam hidup kita, dan jadikan Dia sebagai filter
bagi otak dan pemikiran kita.
Lalu, bagi kita yang sudah ditolong
dan diselamatkan oleh Tuhan, sudah tahu sejarah tentang dosa yang terjadi pada
masa Daud ini, apakah yang harus kita lakukan ?
1.
Kita harus berani mengingatkan diri sendiri
untuk tidak menjadi sumber pemicu dosa bagi orang lain. Misalnya: Pakaian yang
minim (Wanita) , dan pembicaraan yang dapat membangkitkan nafsu birahi orang
lain. Berani mengingatkan, jika tidak dapat diperbaiki…. tinggalkan pembicaraan
tersebut. Berdoalah minta kekuatan dari Dia.
2.
Berani mengatakan yang benar sesuai dengan
firman Tuhan, bukan untuk kesenangan atau aturan dunia yang tidak sesuai dengan
ketentuan Tuhan yang terdapat pada Alkitab kita.
3.
Ingat Matius 4 : 4, manusia bukan hanya hidup
dari roti, tapi dari Firman Tuhan.
4.
Matius 5 : 37
5.
Matius 10 : 11-15
Syaloooooom, Tuhan Yesus memberkati
kita semua.
St.Sarmulia Sinaga,ST.,MT.
GKPS Simalingkar Medan
sarmulia_sinaga@yahoo.com
Kisaran, 25 Juni 2014
Kisaran, 25 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar