Selasa, 24 Juni 2014

Keinginan versus God Point



Keinginan versus God Point
(  2 Samuel 11:1-27)
Umumnya, dosa bermula dari penglihatan, stimulus tersebut direspon oleh hati dan otak. Kedua objek tersebut beradu dan berlaga dalam diri manusia, Antara otak yang didominasi oleh keinginan daging versus hati sebagai pusat keinginan Roh. Dari hati kita akan terpancar buah-buah roh yang dalam hal ini saya sebut sebagai suatu titik yang dikuasai oleh suara Tuhan (God point). Menurut saya, pada setiap umat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna, normalnya proses ini akan terjadi. Stimulus yang diterima oleh panca indra kita, umumnya mata dan telinga lalu direspon oleh otak dan hati akan menghasilkan reaksi, emosi dan tindakan. Dalam fase inilah terjadi pertarungan antara keinginan daging dengan God point yang terletak pada hati kita.
Ketika saya kembali membaca dan melihat beberapa kasus yang terdapat dalam kisah Alkitab kita, misalnya pengalaman raja Daud,yang prosesnya diawali dengan  melihat, menginginkan, dan mengambil, itulah yang sering menjadi pola  orang saat akan jatuh ke dalam dosa (bdk. Kej. 3:6; Yak. 1:14-15).  Pola ini pula yang tampaknya terjadi pada diri Daud dalam  hubungannya dengan seorang wanita yang sudah bersuami yaitu Batsyeba. Waktu itu Yoab masih berusaha menundukkan bangsa Amon dalam pertempuran di Raba. Ke mana Daud? Daud malah tinggal di Yerusalem
Padahal penulis 2 Samuel menyebutkan, biasanya raja-raja  berperang pada saat pergantian tahun. Dengan tinggal saja di Yerusalem berarti Daud tidak memperlihatkan tanggung jawabnya  sebagai panglima perang kerajaan dan ikut berbagi beban dengan para prajuritnya dalam membela kerajaan.
Pada saat ia bersantai-santai itulah pencobaan datang. Ia melihat seorang perempuan sedang mandi. Orang mungkin saja melihat tanpa disengaja. Masalahnya, Daud tidak berhenti melihat dan setelah melihat ia menginginkan perempuan itu, yang ternyata bernama Batsyeba, istri Uria . Lalu tahap menginginkan itu dilanjutkan dengan tahap mengambil Batsyeba dan tidur dengan  perempuan itu. Kesadaran akan bahaya baru muncul setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa ia mengandung . Maka yang muncul kemudian adalah muslihat untuk menutupi dosa, mulai dari cara yang halus, yang kotor, sampai yang bersifat kriminal , yang ditujukan  kepada Uria, suami Batsyeba.
Melihat, menginginkan, dan mengambil merupakan suatu proses yang tidak  berdiri sendiri, melainkan berkaitan dan berkembang. Jadi dosa tidak bersifat stagnan atau statis. Dosa seperti bola salju,  semakin digelindingkan akan semakin besar, ketika kita lebih didominasi oleh keinginan daging dan pikiran manusia duniawi tanpa mempertimbangkan suara yang muncul dari hati yang kita sebut sebagai God point ! Dimulai dari berzinah  dengan istri orang lain yang ia kenal, bahkan bawahanya hingga "membunuh" suami perempuan itu.Pikiran manusiawi yang mendominasi hatinya, sehingga dia menggunakan kesempatan yang ia miliki, dan seolah-olah ia hanya memperhitungkan manusia dalam keputusannya, Daud lupa Sang Khalik yang Maha Tau.  Meski dilakukan sembunyi-sembunyi dan hanya diketahui sedikit orang, tetapi penulis 2 Samuel menyatakan bahwa dosa yang dilakukan Daud adalah sesuatu yang jahat di mata Tuhan. Ini menjadi suatu peringatan keras bagi kita. Jangan pernah bermain-main dengan dosa, namun dalam mengambil keputusan pertimbangan yang utama adalah suara Roh yang keluar dari hati kita yang saya sebut sebagai God Point. Bila itu kita lakukan, saya yakin kita akan terlepas dari jerat iblis yang dating menyerang kita melalui keinginan daging. Namun demikian, Dia yang maha Kasih, akan memberi kesematan buat kita melalui PutraNya Yesus Kristus. Bila suatu waktu kita jatuh ke dalam dosa, jangan berkubang di dalamnya dan segeralah keluar, ulurkan tangan kita padaNya, Dia pasti tolong kita. Mintalah pengampunan Sang Penebus, terima Dia dalam hidup kita, dan jadikan Dia sebagai filter bagi otak dan pemikiran kita.
Lalu, bagi kita yang sudah ditolong dan diselamatkan oleh Tuhan, sudah tahu sejarah tentang dosa yang terjadi pada masa Daud ini, apakah yang harus kita lakukan ?
1.      Kita harus berani mengingatkan diri sendiri untuk tidak menjadi sumber pemicu dosa bagi orang lain. Misalnya: Pakaian yang minim (Wanita) , dan pembicaraan yang dapat membangkitkan nafsu birahi orang lain. Berani mengingatkan, jika tidak dapat diperbaiki…. tinggalkan pembicaraan tersebut. Berdoalah minta kekuatan dari Dia.
2.      Berani mengatakan yang benar sesuai dengan firman Tuhan, bukan untuk kesenangan atau aturan dunia yang tidak sesuai dengan ketentuan Tuhan yang terdapat pada Alkitab kita.
3.      Ingat Matius 4 : 4, manusia bukan hanya hidup dari roti, tapi dari Firman Tuhan.
4.      Matius 5 : 37
5.      Matius 10 : 11-15
Syaloooooom, Tuhan Yesus memberkati kita semua.
St.Sarmulia Sinaga,ST.,MT.
GKPS Simalingkar Medan
sarmulia_sinaga@yahoo.com
Kisaran, 25 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar